Friday, 20 December 2013

Star Santa and (Her) Violin?



Akhirnya kado dari Santa datang juga!!! Diterima pas pada hari Pos-Bar riddle^^ Memang semua indah pada waktunya ya? :D

Buat yang belum tahu, Secret Santa ini adalah event akhir tahun yang diadakan oleh BBI. Jadi cara mainnya adalah, kita menjadi Santa yang harus mengirim buku kepada target tanpa menyebutkan identitas, cuma boleh kasih riddle aja. Kita juga sekaligus jadi target yang akan menerima buku dari Santa kita. Seru kan? Seru kan? Seru dong!!!

Wednesday, 11 December 2013

Lucky No. 14 Reading Challenge



Another challenge!!! Yuuuhuuuu.... 

Kali ini giliran Mba Astrid yang jadi house RC yang namanya unik: Lucky No. 14 RC. Intinya kita wajib baca buku yang sesuai dengan 14 kategori yang sudah ditentukan oleh host. Untung aja untuk RC ini bisa digabungin dengan RC lain, jadi agak menghemat energi ehehehe....

So, here is my list...

2014 Indonesian Romance Reading Challenge


 

Reading challenge yang ini sebenernya tahun 2013 aku juga ikutan. Tapi berhubung ngga pernah review jadi tidak jelas nasibnya :p So, mari coba lagi untuk tahun 2014. Ngga terlalu susah kok sebenernya, ada level-level yang bisa dipilih, sesuai kemampuan masing-masing aja...

Keterangan lengkap bisa langsung ke blog Mba Yuska disini

Untuk tahun depan, sepertinya mau Medium Level saja, Going Steady Level which is 11-20 books. Kayanya bakal berkisar ke genre chicklit punya Gagas plus sastra Indonesia di timbunan. Mmm, kayanya ada beberapa Ayu Utami, NH Dini, Arswendo... siapa lagi ya? ;p

Cek rak buku dulu aaahhh... 


2014 TBRR Reading Challenge



Di host oleh Mbak Maria - Hobi Buku, Reading Challenge ini bakalan berguna banget buat ngabisin timbunan yang selama ini duduk manis di rak. Minimal 1 buku per bulan dari timbunan wajib dibaca, dengan additional challenge buat genre tertentu. Keterangan lengkap bisa langsung ke sumbernya disini.

2014 Reading Challenge

Nah! Setelah hiatus sekian lama... sepertinya blog ini harus segera bangkit dari tidur panjangnya (need a kiss from a prince? ;p) Then, here I am, writing again.... #husyaaaahhh...

Anyway, tahun 2013 tidak terlalu mengecewakan sebenernya. Sukses baca goodreads target sebanyak 50 buku buat aku udah pencapaian... Tapiiiii, kalo ngomongin soal review... hwaaakkksss.... mau ngumpet rasanya :'( Yah, bisa dilihat sendirilah di blog ini hueheuheu... Gara-gara ga pernah nge-review jadinya reading challenge ga ada yang beres deh, hiks, hiks... akhirnya dengan berat hati semua reading challenge di tahun 2013 ini dinyatakan DIPUTIHKAN! >:(

Tapiiii, tahun baru kan biasanya semangat baru... tetep dong daftar Reading Challenge buat tahun 2014. Resolusinya tahun depan harus makin rajin nge-review, ga boleh nunda-nunda, dan tambah rajin blogwalking^^

Anyway, ini link ke master post semua reading challenge yang aku ikutin buat tahun 2014:
3. Lucky No. 14
4. New Authors

Tarik nafas dalam-dalam.... lalu... Berjuang! <(^^)/

Friday, 23 August 2013

[Review] Janji Hati - Elvira Natali


Judul : Janji Hati
Penulis : Elvira Natali
Genre  : Teenlit
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis


Tadinya, Amanda Tavari nyaris putus asa menanggapi sikap Dava. Tapi gara-gara tak sengaja melukai cowok itu, Amanda terlanjur berjanji akan melakukan apa pun agar Dava memaafkannya. Lalu Amanda tersenyum heran menyaksikan cowok itu agar bisa bersikap lemah lembut ketika mengajar anak-anak panti asuhan.

Tadinya, Dava Argianta sangat membenci cewek ceroboh yang menghancurkan impiannya itu. Namun belakangan, Amanda malah menjadi sosok malaikat tanpa sayap yang selalu ada di saat ia membutuhkan bantuan. Dava mendesah lirih, bagaimana mungkin dirinya bisa membenci cewek yang berhasil mengembalikan tawanya yang bertahun-tahun hilang?


Thursday, 1 August 2013

Buying Monday #1

Meme dari Aul@The Black in The Book. Harusnya dibuat di hari Senin tapi baru sempat posting di hari Kamis :p Tak apalah, mohon maklum^^

Bulan ini saya kalap dan khilaf. Kalapnya khilaf. Khilafnya kalap #apa sih. Langsung aja lah ya kita lihat seperti apa... Here we go...

Iseng ngga ada kerjaan maen di Gramedia


Hujan Bulan Juni - Sapardi Joko Damono (finally, setelah nyari2 buku ini, seneng banget Gramedia nyetak ulang... I'm totally in love with Sapardi - walaupun cintanya harus dibagi dengan Acep Zam-zam Noor)

Laki-Laki Pemanggul Goni (berhubung aku koleksi kumpulan cerpen Kompas, dari yang jamannya tahun 90an, buku ini wajib dibeli #justifikasi)

Kesturi & Kepodang Kuning - Afifah Afra (murni karena penasaran)

Untunglah semua ini diskon 20 persen berhubung mantan karyawan Gramed yang masih punya koneksi dengan orang dalam :p


Monday, 29 July 2013

Literatourism : De Slegte - Den Haag

Post ini ditulis buat bayar utang ke Ren yang lagi semangat ngumpulin artikel pandangan mata tentang Literatourism :D Awalnya sih mau nulis tentang Shakespeare & Co, tapi berhubung udah ada yang nulis tentang toko buku itu, kali ini aku nulis soal De Slegte aja ya.

De Slegte adalah jaringan toko buku di Belanda. Iseng nyari artinya De Slegte di Google translate tapi ga nemu :p  Kayanya sih nama yang punya toko #sotoy. Anyway, kesanku sih De Slegte ini agak mirip-mirip dengan Gramedia disini, cuman bedanya De Slegte ini an extensive bookchain specialised on discounted and secondhand books. De Slegte ada di hampir semua kota besar di Belanda, dan yang aku sempat datengin De Slegte di Den Haag, sekitar bulan Maret 2011.

De Slegte Den Haag berlokasi di daerah Centrum, semacam pusat pertokoan di Den Haag. Jalan aja lurus dari toko yang jual kentang goreng, sampe kira2 hampir pojok gitu, De Slegte ini ada di sebelah kiri #petunjukarahmacamapaini :p Biar ga nyasar alamatnya disini : Spuistraat 21, 2511 BC Den Haag.

Walaupun sama-sama secondhand book store, yang membedakan De Slegte dengan Shakespeare & Co menurut aku sih ambience-nya. Shakespeare & Co cenderung berantakan karena bukunya bergeletakan dari kanan kiri atas bawah, tapi De Slegte ini rapi selayaknya toko buku.

De Slegte di Den Haag dibagi jadi dua lantai. Lantai pertama untuk books-related-things yang udah tua dan langka. Kenapa books-related? Karena disana juga ada old postcards, old letters, old stamps... berjajar rapi di lemari kaca. Selain bagian old things itu, aku ga terlalu mengeksplore lantai ini karena disini yang dijual adalah buku bahasa Belanda.

Surga di De Slegte adalah di lantai 2, english section - new and second hand books. Waktu itu aku betah banget ngejogrok disini, sambil nungguin rombongan cewek-cewek hunting baju di Zara, Bershka atau H&M^^ Buku di lantai ini disusun berdasarkan abjad dan I guarantee you, walaupun second hand tapi buku-buku disini kaya baru. And the new one, diskonnya cukup bikin kita senyum terus sepanjang disana.

Buku yang aku beli di De Slegte cukup banyak, lumayan banyak sampe akhirnya buku-bukunya harus dikapalin karena kalau dikirim paket bakalan bikin tekor haha... Waktu itu malah sempat bawa-bawa  list 1001 books you have to read before you die trus dipantengin deh rak bukunya satu-satu hahaha... Ini dua diantaranya :


Penhaligons Scented Treasury of Seasons Verse and Prose (Edited by Sheila Pickles) edisi Musim Gugur, Musim Semi, dan Musim Dingin. Salah satu seri kesayanganku, bukunya wangi - sesuai tema musim, berisi puisi, prosa, lukisan, cuplikan novel, juga sesuai tema musimnya. Waktu itu ga nemu yang edisi Musim Panas, tapi kayanya di Amazon ada sih *belum niat beli hehehe



 
Shipping News - Annie Proulx edisi Perennial nya Harper. Waktu itu ga atau kalau buku ini menang Pulitzer, cuma gara-gara masuk 1001 books you have to read before you die akhirnya dibeli... yah, selain karena diskon juga sih. Kalo ga salah cuma sekitar 3 euro. Fyi, buku ini belom dibaca sampe sekarang >,<


Entah saking asyiknya, atau emang ga boleh bawa kamera, akhirnya ga ada satupun foto yang diambil disini #nyesel. Tapi browsing sana browsing sini kira-kira De Slegte itu seperti ini :

picture taken from here
Btw, pas nulis ini dan browsing lagi tentang De Slegte, baru nyadar kalo De Slegte udah ganti nama jadi Polare sejak 26 Juni 2013. So, mungkin beberapa detail sudah berbeda, tapi konsep awal sepertinya masih dipertahankan. Hmmm, padahal kan lebih romantis De Slegte ya namanya...

Tulisan lain yang aku bikin tentang De Slegte bisa dibaca disini.


Literatourism : Perjalanan. Petualangan. Pembelajaran.


Love,
Dhieta



“What I say is, a town isn't a town without a bookstore. It may call itself a town, but unless it's got a bookstore it knows it's not fooling a soul.” ― Neil Gaiman, American Gods

 

Monday, 13 May 2013

[Review] Tuesdays with Morrie

Akhirnya ada juga kesempatan buat ngeblog #fiuh. Banyak utang buku yang mesti di review nih. Satu-satu deh ya, semoga segala kegilaan di kantor cepet berakhir biar bisa beresin utang-utang itu :p 

Tuesdays with Morrie is definetely my cup of tea! Ini adalah tipe buku yang akan membuatmu merasa membacanya bener-bener ngga sia-sia. Sebuah buku yang membuatmu belajar sesuatu, walaupun sesuatu itu bukanlah sesuatu yang baru. 

Okey, let's begin...



Tema besarnya adalah tentang makna kehidupan.

Berawal dari seorang Mitch Albom yang mendengar kabar bahwa Morrie Schwartz, dosen favoritnya, sakit dan hidupnya tidak lagi lama. Diantara kesibukannya, Mitch mengambil keputusan untuk menyediakan waktu menengok Morrie, sebelum dia benar-benar meninggal. Pada pertemuan mereka Morrie menanyakan beberapa pertanyaan yang sulit ia jawab.


"Apakah kamu sudah menemukan teman untuk berbagi isi hati?"
"Apakah kamu banyak memberi untuk masyarakat?"
"Apakah kamu berdamai dengan dirimu?"

Pertanyaan yang menggugah hati Mitch. Ia mengingat komitmen masa mudanya, keinginannya untuk tidak bekerja demi uang, namun bergabung dengan pasukan perdamaian. Ia dulu ingin menghabiskan hidupnya dengan indah dan menginspirasi.

Kenyataanya, ia bekerja di televisi, dengan tuntutan pekerjaan yang bahkan membuatnya sulit memiliki waktu untuk diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Ia tidak tahu apa yang ia dapatkan, selain uang dan popularitas.

Morrie menyadarkannya. "So many people walk around with a meaningless life. They seem half asleep, even when they're busy doing things they think are important. This is because they're chasing the wrong thing. The way you get meaning into your life is to devote yourself to loving others, devote your self to community around you, and devote your self to creating something that gives you purpose and meaning.

Mereka kemudian berjanji untuk bertemu setiap hari Selasa dan bicara tentang hidup.

***

Buat saya, buku ini menjadi semacam kontemplasi, sebuah perenungan tentang hidup kita sendiri. Seperti kita juga berada di rumah Morrie, setiap hari Selasa, belajar di kelas yang sama dengan Mitch. Topik yang diajarkan beragam, mulai dari diskusi soal dunia, penyesalan, kematian, keluarga, emosi, ketakutan menjadi tua, keuangan, penikahan, budaya, pengampunan dan perpisahan.

Saya dibawa menyelami tokoh Morrie yang mempesona. Seseorang yang tahu tujuan hidupnya: mengabdikan diri bagi dunia pendidikan, menginspirasi sebanyak mungkin mahasiswanya. Ia bersahaja dan mementingkan orang lain bahkan lebih dari dirinya sendiri. Ia tahu bahwa nilai kehidupan bukan pada materi.  Mungkin hal ini lebih mudah ia pelajari karena ia tidak berasal dari latar belakang orang kaya. Masa kecilnya sampai remaja dihabiskan dalam kemiskinan. Kesulitan hidup mengajarinya hal-hal berharga dari hidup itu sendiri.

Saya juga mengagumi Mitch. Di dalam kesuksesannya sebagai jurnalis, ia masih memiliki ruang untuk masa lalunya, termasuk seorang dosen tua yang hampir mati. Mitch juga tipikal orang yang terbuka untuk terus belajar. Dia tahu hidupnya bukanlah hidup yang lengkap, meskipun ia sama sekali tidak berkekurangan. Banyak hal harus dibenahi dan ia mau belajar dari hidup seorang Morrie. Setelah itu, Mitch juga mau membuat penyesuaian di hidupnya, walaupun tadinya hal itu sangat sulit ia lakukan. Menurut saya, Mitch sangat rendah hati.

Buku ini memuat banyak pelajaran berharga. Saking banyaknya, hampir tidak ada halaman tanpa coretan stabilo kuning. Kalimat-kalimat di dalamnya sangat quotable. Mengingatkan dan menginspirasi. Finally, saya belajar bahwa hidup bisa dilewati tanpa penyesalan, kalau kita tahu untuk apa dan bagaimana kita melewatkannya. "Make peace with living," begitu kata Morrie.

Akhirnya, bacaan berbahasa Inggris saya nambah lagi #kejar target :p


Wednesday, 1 May 2013

Giveaway Announcement : BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop

Holaaaaaaaaaaa.... just a quick post everybody!

Maaf banget agak-agak telat buat bikin post ini. Soalnya lagi hectic banget di kantor euy. Jadi buat yang udah ikutan, thanks banget ya udah sabar menanti selama ini #halah. Pertama kali jadi host giveaway rasanya menyenangkan ternyata. Kalau suatu saat bisa menang giveaway pasti lebih menyenangkan #loh.

Anyway, totalnya ada 54 orang yang input entries. Sayangnya cuma ada 1 orang yang akan memenangkan 1 (satu) giveaway berupa award winning books.

Dan yang beruntung itu adalaaaaah...

Indah Stewart

berhak atas 1 buah buku sesuai permintaan
Blood Red Road karya Moira Young, pemenang Cyblis Award 2011. 
 
Selamat ya Indah, I'll send you notification email at the soonest :p

Buat perserta lain yang belum beruntung, thank you banget udah ikut berpartisipasi. Apalagi banyak yang sebenernya belum akrab dengan award winning books, karena ruwet katanya, tapi tetep ikutan juga. Makasih banget udah bikin giveawaynya rame. Moga-moga di giveaway lain bisa menang yaa (berdoa juga buat diri sendiri :p) hehehe...

Tetap membaca. Tetap menulis. Tetap menginspirasi.


Love,
Dhieta




Saturday, 13 April 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop

Happy birthday BBI!!!

Hari ini BBI ulang tahun, yeyeyeyeye!!! Dan bukan BBI namanya kalau ngga ngadain event-event yang keren abis, celebrating the love of books and celebrating the friendships tied by books!!! Salah satunya adalaaaaahhhh.....


Sooo, walaupun saya ini member baru BBI yang belom pernah menang giveaway sampe ngiler-ngiler :p Akhirnya tetep aja mutusin buat jadisalah satu  host BBI Anniversary Giveaway Hop ini. Yaaah, itung-itung sekalian ngerayain ultah saya 5 April kemarin lah huehuehueheu... Senengnya ultah di bulan yang sama dengan BBI huehuehue.... 

Nah giveaway dari saya ini temanya adalah Award Winning Books! Yey! *heboh

Belakangan saya lagi suka banget baca award winning books karena biasanya saya bisa belajar banyak dari situ hehehe. Walopun beberapa buku bikin kening berkerut tapi banyak juga yang bikin breathless^^ Jadi, pengen aja bikin yang lain ketularan baca award winning books :p  

Nah, sudah jelas... Pemenang giveaway ini akan mendapatkan satu buah buku pilihan sendiri dari bookdepository.com atau betterworldbooks.com. Nanti kita liat lah mana yang lebih murah :p Buku yang dipilih harus memenuhi syarat berikut:
  1. Termasuk award winning book (terserah award apa, boleh Nobel, Pulitzer, Man Booker Prize, Orange Prize, National Book Award, Khatulistiwa Literary Award or apapun)
  2. Harga maksimal $10
Nah, caranya gampang banget bow! Tinggal klik-klik rafflecopter di bawah. Khusus buat leave blog post comment, jawab pertanyaan berikut yaa...
  1. Sudah seberapa akrab kah kamu dengan award winning books?
  2. Data buku yang diinginkan sebagai hadiah (judul, pengarang, award yang diterima) dan alasan kenapa memilih buku tersebut.
  3. Jangan lupa sertakan alamat email yaa^^
a Rafflecopter giveaway

Nah, gampang kan? Yuk, yuk, yuk ikutaaannn.... dan jangan lupa masih banyak Giveaway lain yang diadakan oleh member BBI. Happy blogwalking, participate in the celebration and win the giveaways!!!

Oh iya... kayanya mesti ditutup dengan ucapan ini,

HAPPY BIRTHDAY BEBI!!! KEEP BOOKING THE NATION!
YEY!

Thursday, 21 March 2013

[Review] Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
ISBN : 979 - 97312 - 8 - 3
Jumlah Halaman : 145

***

Sinopsis

Sebuah buku adalah sebuah kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau lebih dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa tebesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.

Pramoedya Ananta Toer lewat buku ini menuturkan sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia-manusia Pribumi. Pemeriksaan yang cukup detail dan bersorak tuturan perjalanan ini, membiakkan sebuah ingatan yang satire, bahwa kita adalah bangsa yang kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain.

Satu lagi buku yang menguak sejarah tragedi terbesar terkoyaknya kita sebagai bangsa yang kawasannya luas, kaya, tapi selalu kalah dalam segala hal.

***

Menyelesaikan buku ini adalah perjuangan. Sebenarnya buku ini adalah buku wajib saya di bulan Februari, tapi baru saya selesaikan pertengahan Maret. Padahal bukunya tipis saja dan biasanya untuk buku setipis ini saya tidak membutuhkan waktu lebih dari tiga hari.

Mungkin karena buku ini tidak seperti perkiraan saya yang mengharapkan  karya fiksi seperti halnyat etralogi Pulau Buru. Ternyata buku ini  adalah buku non-fiksi yang lebih seperti text book sejarah. Apakah menarik? Entahlah, untuk saya, sepertinya agak nanggung. Ups? Siapa saya berani mengkritik Pramoedya? Well, this is all what I feel when I read it T.T

Buku ini membawa kita menyelusuri kota-kota yang dilewati oleh Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Daendels, dari Anyer sampai Panarukan, membentang sepanjang 1000 km. Tentu saja riset yang dilakukan Pramoedya sangat kuat dan informatif, tapi semua informasi tambahan itu seakan menenggelamkan peristiwa pembangunan Jalan Raya Pos itu sendiri. Seakan Pramoedya bebas saja memasukkan informasi apapun mengenai kota-kota yang ia bahas. Informasi itu bisa saja tentang masa penjajahan Portugis dan Spanyol, penjajahan Belanda (tidak terbatas pada masa Daendels), sampai masa perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, bahkan orde baru. Saya agak terganggu dengan hal ini karena menurut saya agak  tidak fokus dan mengaburkan tema semula.
 
Memang saya mendapat banyak informasi tentang sejarah kota-kota yang dilalui Jalan Raya Pos. Kalau buku ini memang mau sebatas menyusuri kota-kota sepanjang Jalan Raya Pos, saya kira itu tidak masalah. Tapi saya tidak menangkap isu genosida yang disampaikan sejak awal, kecuali informasi mengenai  jumlah orang terbunuh. Jujur saja, saya mengharapkan buku ini fokus pada kisah tentang pembangunan Jalan Raya Pos itu sendiri, peristiwa-peristiwa atau polemik apa yang terjadi ketika jalan itu dibangun. Sesuatu yang bisa membuah hati kita sakit karena penderitaan para pekerja paksa pada saat itu.

Saya sebenarnya penggemar buku Sejarah, itu adalah mata salah sau masa pelajaran favorit saya di sekolah dulu. Tapi, saya agak capek membaca buku ini. Mungkin seperti perasaan di masa sekolah muncul lagi, ketika kita harus membawa textbook wajib tanpa menikmatinya. Ketika halaman terakhir sudah dilewati, saatnya menghembuskan nafas panjang dan beristirahat sejenak.




Love,
Dhieta

Sunday, 10 March 2013

[Review] Éclair: Pagi Terakhir di Rusia



Judul : Eclair, Pagi Terakhir di Rusia
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 236
Tanggal terbit : Maret 2011

***

Kalau bukan karena twitter Prisca Primasari yang menawarkan buku ini plus tanda tanggannya, mungkin saya ngga akan sebegitu tertariknya. Tapi, yaah, berhubung review tentang buku sebelumnya cukup oke, ngga ada salahnya kan mencoba dengan buku yang lain ;)

Ngga jauh-jauh dari buku yang sebelumnya, lagi-lagi novel ini bersetting di Eropa. Ada juga sih sebagian cerita di Indonesia, tapi sebenarnya tokohnya adalah bule-bule asal Rusia. Ceritanya adalah tentang persahabatan 4 orang pria, business-man, sastrawan, fotografer dan koki. Informasi-informasi mengenai profesi mereka  itu menjadi ornamen yang menghiasi dialog dan narasinya. Membuatnya berisi dan berarti. Kelihatan kalau Prisca ini fokus pada detail dan melakukan riset yang tidak serampangan.

Saya ngga akan bahas detail tentang buku ini seperti apa karena bagaimanapun buku ini, seperti karya Prisca lainnya, termasuk buku yang bisa dinikmati.  Ide utamanya adalah tentang rekonsiliasi. Bagaimana ketika persahabatan itu retak dan harus ada orang yang berani meminta dan memberi maaf. 

Membaca hampir semua buku Prisca, finally saya menyimpulkan, buku-bukunya seperti buku dongeng. Poin plusnya adalah Prisca punya teknik penulisan yang bagus. Alur nya yang maju mundur bikin cerita di buku ini lebih dinamis karena sebenarnya konflik dan ide ceritanya sederhana.

Setelah membaca hampir semua buku Prisca, saya cuman jadi penasaran aja bagaimana kalau Prisca bikin buku dengan setting Indonesia, dengan ornamen lokal, dengan tokoh yang sangat Indonesia. Apakah sama romantis nya dengan latar Eropa yang sering dia pakai?



Love,
Dhieta

[Review] Singgah

Judul  : Singgah

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : 31 Januari 2013
Jumlah halaman : 236

Sinopsis : 


Terminal, bandara, pelabuhan, stasiun: Tempat persinggahan, keberangkatan, perhentian.

Ada banyak kisah tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang orang-orang yang menanam kakinya di sana. Mereka yang berbagi luka dan cinta. Tentang rindu yang diam-diam dipendam. Tempat yang selalu ingar bingar, tetapi juga melesapkan sepi yang menggerogoti jiwa—tanpa suara.

Seorang lelaki menapak tilas jejak kekasihnya yang hilang ke sebuah dermaga, lelaki lainnya memancing bintang. Di stasiun, pak tua berpeci lusuh duduk menanti mataharinya setiap dini hari. Di bandara, koper-koper tertukar, dan ada cinta yang menemukan pelabuhannya. Di terminal, panas kopi membakar lidah dan hati.

Sebelas penulis merangkai kenangan di tempat tempat persinggahan. Mengantar pergi, menjemput pulang.


***

Cerpen selalu punya daya magis, karena dengan ruang yang terbatas penulis dituntut untuk bisa mengemukakan idenya dan meninggalkan kesan. Setelah beberapa tahun menjadi pengikut setia kumpulan cerpen Kompas, saya mengamati belakangan banyak buku dengan konsep serupa diterbitkan. Beberapa terkesan matang, beberapa sekadarnya. Setelah beberapa waktu lalu Gramedia menerbitkan kumpulan cerpen dengan tema hujan, berjudul Perempuan yang Melukis Wajah, kali ini tema yang diambil adalah tempat yang berhubungan dengan perjalanan. Tempat yang menjadi persinggahan.

Saya bukan penggemar cerpen surealis. Bagi saya, cerpen dengan kisah realis lebih mengena di hati walaupun penyampaiannya tidak selalu liris. Untungnya dari 13 cerpen di buku ini, hanya 2 yang menurut saya surealis: Jantung (Jia Efendi) dan Para Hantu & Jejak-jejak di Atas Pasir. Selebihnya, kisah sehari-hari yang terjadi di tempat-tempat yang kita temui sehari-hari.

Favorit saya adalah Dermaga Semesta (Taufan Gio), tentang seorang Pemuda yang melakukan napak tilas perjalanan kekasihnya yang sudah meninggal. Di dalamnya saya menemukan kehilangan yang dihadapi dengan tegar, bukan dihindari tetapi disambut. Lagi-lagi ini soal kenangan, kenangan yang pada akhirnya menjadi berharga kalau kita menerima. Menerima dengan sederhana. Lalu kembali berjalan dan membuat kenangan-kenangan baru. 

Membaca kumpulan cerita yang ditulis oleh banyak pengarang tentu saja tidak sama dengan membaca buku dengan konsep sama yang ditulis oleh satu pengarang. Kadang saya menemukan intensitasnya naik turun, karena tidak semua cerita menghasilkan efek yang sama. Bahkan hal seperti gaya bahasa pun bisa menghasilkan efek yang berbeda.

Saya tidak tahu kenapa buku ini diberi judul singgah, selain karena buku ini memakai banyak setting tempat singgah. Tapi, sepertinya konsep singgah sendiri tidak terlalu mengemuka. Apakah singgah, berarti sekedar lewat. Atau singgah, yang artinya berhenti sementara. Atau singgah, yang adalah pergi dengan terpaksa. Bahkan buku ini pun sepertinya hanya sekedar singgah.

Mungkin seperti yang ditulis dalam sinopsisnya, singgah adalah antara pergi dan pulang. Benarkah?



Love, 
Dhieta

Saturday, 9 March 2013

[Review] The Song of Achilles


Judul : The Song of Achilles
Pengarang : Madeline Miller
Penerbit : Blomsbury Publishing

Sinopsis :


Greece in the age of Heroes. Patroclus, an awkward young prince, has been exiled to the kingdom of Phthia. Here he is nobody, just another unwanted boy living in the shadow of King Peleus and his golden son, Achilles.


Achilles, 'best of all the Greeks', is everything Patroclus is not — strong, beautiful, the child of a goddess — and by all rights their paths should never cross. Yet one day, Achilles takes the shamed prince under his wing and soon their tentative companionship gives way to a steadfast friendship. As they grow into young men skilled in the arts of war and medicine, their bond blossoms into something far deeper — despite the displeasure of Achilles's mother Thetis, a cruel and deathly pale sea goddess with a hatred of mortals.

Fate is never far from the heels of Achilles. When word comes that Helen of Sparta has been kidnapped, the men of Greece are called upon to lay siege to Troy in her name. Seduced by the promise of a glorious destiny, Achilles joins their cause. Torn between love and fear for his friend, Patroclus follows Achilles into war, little knowing that the years that follow will test everything they have learned, everything they hold dear. And that, before he is ready, he will be forced to surrender his friend to the hands of Fate.

Profoundly moving and breathtakingly original, this rendering of the epic Trojan War is a dazzling feat of the imagination, a devastating love story, and an almighty battle between gods and kings, peace and glory, immortal fame and the human heart



***


Wew! Buku ini penuh letupan letupan kecil yang bikin tarik nafas pas selesai bacanya.

Saya lagi pengen baca buku-buku yang menang literary award. Pas kebetulan nemu buku ini didiskon, dan tertarik karena di covernya ada notifikasi kalau buku ini menang Orange Prize 2012. Trus baca sinopsisnya lumayan tertarik cos mikirnya bakal baca soal persahabatan antara dua pria, Achilles dan Patroclus. Kalo persahabatan antara dua cewek, kan udah sering dibahas tuh. Tapi persahabatan dua cowok agak-agak jarang, makanya penasaran.

Tapiiii, ternyata oh ternyata... this is not about friendship between two man. This is about love between them. Weleh, saya shock banget! Hadoooohhh... agak sedikit perjuangan sih bacanya apalagi kalau pas bagian si Achilles dan Patroclus ini mesra-mesraan. Agak-agak geli gitu.

Cerita dalam novel ini punya latar waktu yang panjang, dari Patroclus kecil sampai dengan masa dewasanya. Sebenarnya novel ini menceritakan kembali legenda Yunani Kuno, Perang Troya, dari sudut pandang Patroclus.  Tapi fokusnya lebih kepada hubungan antara Patroclus dan Achilles, yang sampai akhir saya berusaha mendefinisikan hubungan mereka sebagai persahabatan -.- Saya ngga tahu kenapa Miller, yang background pendidikannya adalah studi tentang Yunani Kuno, menginterpretasikan Patroclus dan Achilles as lovers, sementara novel lain menceritakan mereka sebagai bestfriends, dan even di filmnya mereka malah diceritakan sebagai keluarga.

Yang jelas, deskripsi Patroclus soal Achilles bikin saya jatuh cinta sama tokoh satu ini. Dia diceritakan ganteng abis, cuek, kuat, prideful, tapi sebenarnya lembut hati. Macho abis. Kalau awalnya saya pendukung Paris, sekarang saya jadi beralih pada Achilles. Posisinya sebagai anak yang ditakdirkan menjadi mesin perang, bukan sesuatu yang dia inginkan. Pilihannya untuk maju berperang tidak lebih dari karena dia tidak punya pilihan. Perang itu sendiri pada akhirnya membuat dia terluka secara emosional dan cukup mengubah dia jadi sosok yang (hampir) ngga punya belas kasihan. 

Sebagian besar cerita adalah masa sebelum perang Troya, saya agak bosan bacanya karena lumayan flat di awal, tapi begitu masuk ke bagian perangnya, baru deh mulai intensitasnya. Apalagi karena ada ramalan kalau si Achilles ini bakalan mati dan membaca buku ini halaman demi halaman seperti mendekatkan Achilles pada kematiannya, which was actually I didn't want to do so. Anyway, saya sedih banget pas Achilles ini akhirnya harus mati, sampe kepikiran berhari-hari.

Trus karena novel ini pakai sudut pandang orang pertama (Patroclus) dan disampaikan dengan gaya bahasa yang so sweet, image saya tentang Patroclus ini jadi ngga macho sama sekali. Cenderung menyek-menyek dan bikin saya sebel. Tapi terlepas dari itu, buku ini sangat puitis dan penuh metafora yang kalau diterjemahin ke bahasa Indonesia bakalan agak-agak lebay wkwkwk.... Yah, tapi berhubung saya suka puisi jadi ngga masalah juga sih. 

Bukan jenis buku yang saya nikmati dari awal sampai akhir memang, tapi secara emosional bikin galau juga sih pas sampai di halaman terakhir. Oh, Achilles... You're really breathtaking.




Love,
Dhieta




Achilles asks questions that cannot be answered and makes demands that cannot be met - Adam Parry.

[Review] Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa


Judul : Paris
Pengarang : Prisca Primasari
Penerbit : Gagas Media

***

Sinopsis (copas dari goodreads :p)

Vinter

Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih. Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin…. 

Florence

Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia. Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri….

***

Dibandingkan karya-karya Prisca yang lain, novel ini favorit saya. Pertama, dari segi penyampaian, saya suka dengan gaya Prisca menulis. Rapi, teratur dan kesannya bersih. Wkwkwk, agak membingungkan yah deskripsinya :D

Kedua, dari segi karakter, novel ini digarap dengan baik. Bercerita tentang Vinter dan Florence yang bertemu secara kebetulan di kereta, disaat Florence sedang melarikan diri dari perjodohan yang diatur orang tuanya. Saya menemukan bahwa karakter dalam novel ini terasa kuat, karena saya tahu kenapa tokoh A punya karakter itu. Misal, di buku ini diceritakan masa lalu Vinter yang membuatnya menjadi tokoh yang cenderung dingin dan menarik diri. Hal lain, karakter yang konsisten dari awal sampai akhir juga menjadi nilai plus.

Kalau soal plot, mungkin karena plotnya tidak linear, saya jadi ngga bosan bacanya. maksudnya, novel ini ngga cuma cerita soal kisah cinta Vinter dan Florence, tapi juga soal masa lalu Vinter, sahabat mereka yang bernama Zima, dan juga tentang patah hati Florence. Cerita yang saling berkaitan itu dirangkai dengan dinamis, dan ada value yang bisa diambil. 

Bagaimanapun, kalau dibandingkan dengan buku bergenre sama, novel ini termasuk layak dibaca. Ngga adil dong kalau saya bandingkan dengan bukunya Pramoedya, NH Dini atau Remy Silado. Saya sih tetep seneng baca novel ini. Soalnya kadang banyak buku genre serupa yang terlalu bertele-tele dan over-romantic, trus kesannya jadi alay. Kalau udah nemu yang kaya gitu, rasanya capek banget deh. Suka ngga selesai bacanya hehehe.

Yang paling penting, dari novel ini ada banyak hal yang sebelumnya saya  ngga tahu. Tentang kota bernama Hornfleur di Perancis, beberapa puisi dan musik klasik, juga tentang profesi memahat es. Romantis tapi tidak over. Pas.

Good job, Prisca.



Love, 
Dhieta




[Review] Paris


Judul : Paris
Pengarang : Prisca Primasari
Penerbit : Gagas Media

***

Bulan Februari kemarin saya banyak membaca tulisan Prisca. Buku ini ber-setting di Paris, tempat yang udah sering banget dijadiin setting, mulai dari buku, lukisan, film, lagu, macem-macem lah. Tapi yah, berhubung Paris itu salah satu kota favorit saya, ngga pernah bosen deh baca soal kota ini.

Novel ini bercerita tentang kisah cinta Aline dan Sena. Alur ceritanya sederhana, tapi disampaikan dengan bagus. Mungkin ini soal selera ya... Saya bukan tipe pembaca yang suka baca cerita yang disampaikan dengan bahasa gaul. Mungkin karena udah biasa baca sastra, jadi terbiasa dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar :p Bahasa gaul sebagai dialog, untuk memperkuat karakter bisa diterima, tapi kalo narasi cerita pake bahasa gaul, agak-agak kurang suka bacanya. Well, sekali lagi ini soal selera.

Oke, buku ini punya cerita yang unik. Berawal dari Aline yang menemukan pecahan keramik di taman, lalu benda itu menbawanya mengenal seorang cowok bernama Sena. Cowok ini dikisahkan misterius, karena mengajaknya bertemu di Bastille, pukul 12 malam. Cowok ini juga diceritakan sering datang dan pergi tanpa alasan yang jelas. Diantara semua ketidak jelasan itu, Aline pelan-pelan menemukan dirinya jatuh cinta. Cinta yang membuat dia mengenal dirinya sendiri dan berani melangkah dari patah hati.

Interaksi antara Aline dan Sena cukup dinamis dengan beberapa perbedaan karakter yang mereka punya. Menarik melihat bagaimana mereka saling menyesuaikan. Apalagi ketika diperkaya dengan janji Sena untuk memenuhi 3 permintaan Aline karena sudah mengembalikan pecahan keramiknya. Cerita tentang keramik itu pun merupakan misteri tersendiri.

Over all, saya menikmati membaca buku ini. Paris sebagai setting juga diolah dengan pas, walaupun tidak terlalu dalam. Untungnya, Paris diposisikan bukan sebagai kota over-romantic dengan cerita berkisar antara berciuman di puncak menara Eiffel atau fine-dining dengan hidangan keju. I'm getting sick with something like that. 

Satu hal yang cukup mengganggu cuma alasan kenapa Sena menjadi cowok misterius. Menurut saya alasannya agak sulit diterima akal sehat dan agak hiperbola. But overall, this book is another sweet story to be read with a cup of cammomile tea.




Love.
Dhieta



I love Paris in the summer, when it sizzles - Cole Porter

Monday, 11 February 2013

[Review] Montase - Windry Ramadhina


Judul : Montase
Pengarang : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Tanggal Terbit : Desember 2012

First impression... covernya sendu banget! :")

Saya lagi males nulis sinopsis panjang-panjang hiks... dengan kepala pusing dan idung meler seperti ini, mikir jadi berasa berat >.< Intinya ini adalah cerita tentang mahasiswa perfilman IKJ bernama Rayyi dan Haru, tentang cinta mereka kepada film dan tentang impian.

Ini buku pertama yang saya baca di tahun 2013.  Dibaca buat menuhin 2013 Reading Challenge : Indonesian Romance. Walaupun saya bukan tipikal penggemar berat chicklit, metro pop dan genre sejenisnya, pada akhirnya saya menemukan ada beberapa penulis yang menulis buku genre ini dengan sangat baik.

Windry Ramadhina salah satunya.

Tidak sebagus buku sebelumnya, tapi lagi-lagi Montase dengan cerita nya yang sederhana, ditulis dengan baik. Riset yang dilakukan Windry memberikan gambaran yang menyeluruh tentang kehidupan mahasiswa IKJ, dunia perfilman dan sedikut sentuhan budaya Jepang.

Tidak semata-mata buku tentang cinta. Tidak semata-mata tentang persahabatan dan masa remaja. Buku ini adalah tentang keterbukaan untuk terus belajar, dari orang lain, dari diri sendiri, dari situasi.

Saya tidak suka kematian dalam sebuah cerita. Sama halnya saya juga tidak suka sad ending. Tapi kematian dalam buku ini tidak terasa seperti sad ending.

Mungkin seperti yang digambarkan dalam sampulnya: sakura yang berguguran tidak selayaknya disambut dengan kesedihan.




Love,
Dhieta

 

[2013 Reading Challenge] Indonesian Romance

Nah, sebenarnya Challenge ini justru challenge pertama yang aku ikutin, cuman sempat kelupaan #parah. Sebenarnya iseng aja sih alasannya, hehehe...  Ini juga challenge yang ngga terlalu ngerepotin karena kebetulan 'Romance' itu aku banget sih^^ Lengkapnya bisa diklik di gambar cute ini... #pacaran kaya gini kayanya asik deh :D


Syarat Challenge ini cukup mudah, boleh pilih level mana yang jadi target kita, 

Fling: membaca 1-3 buku
First Date: membaca 4-7 buku
Going Steady: membaca 8-11 buku
Engaged: membaca 12-14 buku
Married: membaca 15-100 buku

Berhubung koleksi roman Indonesia yang belum tersentuh di rak cukup banyak, dan karena married nampaknya menyenangkan #loh? :p Saya mau baca roman Indonesia minimal 15 buku. Kalo lebih ya berarti saya lagi ga sibuk hahaha...

Saya sebenernya udah baca tiga buku Roman Indonesia, Montase, Amba dan Namaku Mata Hari. Cuman lupa buat setor progressnya ke host, hmmm... gimana ya? Yasudahlah, yang penting jalan terus aja :)



Love,
Dhieta



And what's romance? Usually, a nice little tale where you have everything as you like it, where rain never wets your jacket and gnats never bite your nose, and it's always daisy-time - D.H. Lawrence

[Lucky Buy] Books and Beyond UPH Lippo Karawaci, 10 Februari 2013

Weekend kemarin saya mengunjungi seorang teman di Lippo Karawaci dan salah satu agenda wajib kami kalau saya kesana adalah ke Books and Beyond. Mungkin karena B & B Lippo Karawaci adalah pusatnya, di toko ini sering ada buku-buku dengan special price. Kemarin banyak banget buku yang menggoda iman, secara buku impor cuman jadi Rp. 33.000 rupiah saja. 

Kalau ngga inget bulan ini juga ada Kompas Gramedia Book Fair, saya pasti sudah kalap =D Akhirnya pilihan jatuh hanya pada 3 buku^^

Ngopi dari sinopsis di Amazon.com

Meri is newly married, pregnant, and standing on the cusp of her life as a wife and mother, recognizing with some terror the gap between reality and expectation. Delia—wife of the two-term liberal senator Tom Naughton—is Meri's new neighbor in the adjacent New England town house. Tom's chronic infidelity has been an open secret in Washington circles, but despite the complexity of their relationship, the bond between them remains strong. Soon Delia and Meri find themselves leading strangely parallel lives, as they both reckon with the contours and mysteries of marriage: one refined and abraded by years of complicated intimacy, the other barely begun. With precision and a rich vitality, Sue Miller—beloved and bestselling author of While I Was Gone—brings us a highly charged, superlative novel about marriage and forgiveness.

Sebenernya di belakang buku ini ga ada sinopsisnya, jadi sama sekali ngga ada bayangan ceritanya bakal kaya gimana. Cuman sepertinya pernah denger kalo buku ini bagus. Yang pasti sih jatuh cinta dengan packagingnya, hard cover dengan kertas tebel dan harganya itu loh, masa 310.000 cuman jadi 33.000?^^ 

Buku kedua adalah ini,

Kadang ya, saya ngerasa punya radar yang bisa menyeleksi buku yang bagus atau ngga bahkan tanpa baca dulu, wakakaka. Buku ini juga dibeli dengan mengandalkan insting, tertarik gara2 diliat sekilas ada hubungannya dengan dunia anjing, wkwkwkwk....

Ternyata udah masuk Wikipedia (disini) dan nampaknya emang ceritanya bagus.  Tentang seorang anak yang berasal dari keluarga peternak anjing, pulang dari pelarian dan menemukan rahasia pembunuhan ayahnya.

We'll see apakah emang bagus bener apa ngga, hehehe...

Saya sih cuma berharap ngga ada anjing yang mati di cerita ini :p 

Lalu yang terakhir adalah salah satu buku dari Perennial Collection of Prizewinners, Bestsellers and Modern Classics terbitan Harpers Collins. Buku ini pemenang Pulitzer Prize for Fiction dan National Critics Book Award. Huehehehe,,, Luar biasa nampaknya yah^^ 

Berhubung saya udah punya The Shipping News-nya Anne Proux dari seri Perennial ini, saya pikir asik juga kalo semuanya dikoleksi.

Browsing-browsing tentang buku ini, ternyata buku ini seperti King Lear-nya Shakespeare dalam setting modern. Saya belum pernah baca King Lear sih, tapi malah jadi tambah penasaran...

Sabar-sabar ya tiga buku lucky buy yang murah meriah... Kalian harus tunggu giliran sampai nanti aku bisa baca kalian :D

Finally, nampaknya saya harus sering-sering ke Books & Beyond Lippo Karawaci buat berburu Lucky Buy lagi  xp



Love,
Dhieta



“Cheap editions of great books may be delightful, but cheap editions of great men are absolutely detestable” ― Oscar Wilde, The Critic as Artist

[Review] The Devil and Miss Prym - Paulo Coelho

Saatnya review buku lagi :) Kali ini giliran buku wajib bulan ini, The Devil and Miss Prym-nya Paulo Coelho. Yuhuuuu^^

Judul  : The Devil and Miss Prym
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Harper International
ISBN : 0060527994
Tanggal Terbit : Juli 2006
Jumlah Halaman :

Another beautiful book by Paulo Coelho. Tentang sebuah kota kecil bernama Viscos: tipikal kota yang stagnan dengan sebuah hotel, sebuah gereja dan tentu saja, pekuburan. However, penduduk Viscos adalah men and women with good virtues. Lalu keadaan berubah ketika ada seorang pendatang yang mengunjunginya. Konon, pendatang ini berada dalam pengaruh Iblis. Dia kemudian membawa penduduk Viscos ke dalam pertaruhan - pilihan antara Good and Evil. Pertaruhan itu disampaikan ke penduduk desa, melalui Miss Chantal Prym - seorang bartender muda dan yatim piatu. Pertaruhan seperti apa sebenarnya? Lalu apa yang akan dipilih oleh penduduk Viscos? Good or Evil?

***

Membaca Paulo Coelho selalu membawa kita pada perenungan tentang nilai-nilai kehidupan. Kali ini kita dibawa pada kenyataan bahwa manusia berada pada pilihan antara yang baik dan buruk, antara mengikuti nasihat malaikat atau nasihat Iblis.Menarik sekali melihat bagaimana Miss Prym dan penduduk desa pada akhirnya mengambil keputusan. Konfliknya bergantian antara berperang dengan nurani, dan juga dengan sesama penduduk Viscos.Miss Prym pada akhirnya menjadi tokoh kunci yang membawa penduduk desa kepada pilihan yang seharusnya. Pada akhirnya, desa itu tidak lagi sama, juga dengan Miss Prym dan si Pendatang.

Semuanya adalah soal keputusan.

Sisi psikologis si Pendatang dengan pertaruhan gila nya itu juga diungkapkan dengan baik. I mean, semua nampak logis ketika kamu menemukan alasan kenapa karakter A atau B bertindak sesuatu dalam sebuah novel. Tingkah laku gila si Pendatang nampak sangat wajar ketika pada akhirnya kita tahu tragedi masa lalu seperti apa yang melatar belakanginya. Juga dengan sejarah Viscos sendiri, bagaimana desa itu dibangun di masa lalu, dan bagaimana sejarah ini membentuk karakter penduduk Viscos yang sekarang. 

Membaca buku ini seperti mendapatkan beberapa dongeng di dalam dongeng, karena ada beberapa ilustrasi yang dipakai Paulo Coelho untuk menjelaskan sesuatu, dan ilustrasi itu bisa dibaca terpisah sebenarnya. Pendeknya, buku ini memperkaya kita.

Me love it!

Dan karena buku ini bahasa Inggris dan ada unsur nama di dalamnya, bisa dipakai buat 2 reading Challenge dong. What's in A Name Challenge dan Reading Books in English^^ Yes, nambah lagi, alon-alon waton kelakon aja lah :D



Love,
Dhieta

Friday, 8 February 2013

[Review] Namaku Mata Hari


Mesti segera bikin review buku ini biar bisa update progress buat What's in A Name Challenge, hehehe...

Judul  : Namaku Mata Hari
Penulis :  Remy Silado
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : 12 Oktober 2010
ISBN : 9789792262810
Jumlah Halaman : 560


Seperti novel Remy Silado yang lain, novel ini juga berlatar belakang sejarah. Kali ini adalah masa Perang Dunia pertama, ketika Belanda masih menduduki Indonesia sekitar abad ke-20.

Tercermin dari judulnya, buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Mata Hari, pelacur elite di jamannya yang sempat mengguncangkan dunia internasional karena perannya sebagai double agent Perancis dan Jerman pada masa PD I.

Misi double agentnya tidak terlalu diceritakan mendetail dalam buku ini, karena sebagian besar cerita justru mengenai masa sebelum Mata Hari menjadi pelacur kelas satu. Masa kecilnya di sebuah desa kecil di Belanda, pernikahan tidak bahagia dengan seorang perwira Belanda keturunan Skotlandia, petualangannya dengan berbagai lelaki. Fokusnya adalah waktu-waktu yang dihabiskan Mata Hari di tanah asal ibunya, di Indonesia. Indonesia adalah tempat dimana ia mengembangkan bakatnya : menari, dan ternyata tarian erotis Jawa-lah yang membawa dia menjadi penari yang paling dicari di masa itu, dari Paris, Madrid, hingga Berlin.

Perjalanan hidup yang membawa dia menjadi pelacur adalah gabungan dari dendam dan sakit hati, ambisi akan uang dan popularitas serta hasrat yang tidak terkendalikan. Overall, Mata Hari seperti sedang menjustifikasi pilihan-pilihan hidupnya. Semuanya ternyata bermula di Indonesia.

Oh iya, Mata Hari juga suka membaca, dia menguasai tujuh bahasa, suka sastra, musik dan mengunjungi museum. Hmmm, what an interesting women indeed. Yang paling menarik adalah cara yang dia pilih untuk mati.

Wew!

Sebagai penggemar berat Remy Silado, setelah membaca buku ini saya agak kaget^^ Selain bahwa latar waktu, tempat dan suasana di buku itu dituturkan dengan detail (khas Remy), saya seperti tidak sedang membaca Remy. Hmm, menulis sebuah karakter di buku dengan sudut pandang  'aku' tentu tidak mudah. Tapi Remy seakan bertransformasi menjadi Mata Hari, perempuan, pelacur, ambisius dan bitchy. Hasilnya, saya justru seperti sedang membaca buku harian Mata Hari sendiri.

Dilihat dari tahun terbitnya, ini memang buku lama. Setelah mencari sekian lama (alay!) :p akhirnya diperoleh dengan tidak sengaja di festival buku bulan kemarin, lagi diskon pula :D At least, cita-cita buat mengkoleksi semua buku Remy Silado sudah ada kemajuan, hehe...



Love, 
Dhieta